Berita Barru – Asrama Ikatan Mahasiswa Asal Pangkep (IMPAK) yang berdiri pada 2004 di Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, pernah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa rantau yang menimba ilmu di sekitar Kampus IAI DDI Mangkoso. Dibangun dengan semangat kebersamaan, asrama ini diharapkan menjadi solusi agar mahasiswa asal Pangkep dapat tinggal nyaman tanpa terbebani biaya kos.

Namun, setelah dua dekade berlalu, cita-cita mulia itu semakin memudar. Gedung yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bernaung kini menyimpan kisah getir. Kondisinya kian merapuh dan jauh dari kata layak huni.
Kondisi Fisik Memprihatinkan
Dinding asrama tampak retak, plafon bocor, bahkan sumber air yang tersedia keruh. Mesin pompa yang menjadi penopang kebutuhan air kerap rusak hampir setiap bulan. Lebih memprihatinkan lagi, plafon gedung kini dihuni binatang liar, termasuk ular, yang jelas membahayakan penghuni asrama.
Kondisi ini tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menimbulkan rasa waswas bagi mahasiswa yang masih memilih bertahan. Alih-alih menjadi ruang belajar yang kondusif, asrama justru menghadirkan tantangan tambahan di tengah perjuangan menuntut ilmu.
Baca Juga : Program Sekolah Rakyat Putus Mata Rantai Kemiskinan
Suara Mahasiswa dan Tantangan Perbaikan
Mahasiswa penghuni asrama mengaku prihatin dengan keadaan tersebut. Mereka berharap adanya perhatian serius, baik dari pengurus IMPAK maupun pihak terkait, agar asrama dapat kembali layak digunakan.
“Dulu, asrama ini penuh semangat dan ramai dengan aktivitas mahasiswa. Sekarang, banyak yang enggan tinggal karena kondisinya yang membahayakan,” ungkap salah seorang mahasiswa.
Perbaikan asrama diyakini membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari alumni, pengurus organisasi, hingga dukungan pemerintah daerah. Tanpa itu, sulit rasanya mengembalikan fungsi asrama sebagai pusat kebersamaan dan rumah ilmu.
Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan
Asrama IMPAK Barru bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga simbol perjuangan mahasiswa Pangkep di tanah rantau. Di balik kondisi yang kian merapuh, tersimpan nilai sejarah dan semangat kolektif yang tidak boleh dilupakan.
Jika revitalisasi bisa dilakukan, asrama ini berpotensi kembali menjadi tempat lahirnya generasi muda yang cerdas dan berdaya saing. Sebuah rumah ilmu yang mampu menopang cita-cita, bukan sekadar bangunan tua yang menunggu runtuh.


















